‎Fanatisme Bola buta, Wali Kota Tidore Injak Harga Diri Rakyat Oba Selatan

Admin RedMOL
0
TIDORE KEPULAUAN, RedMol.id — Gelombang amarah, murka, and kecaman masif kini meledak tanpa bendung di Kota Tidore Kepulauan. Ulah memalukan, arogan, dan tidak beretika diperontonkan oleh kepala daerahnya yang diduga telah dibutakan oleh fanatisme sepak bola world cup. Alih-alih berjiwa besar menerima konsekuensi kekalahan tim dukungannya, sang Walikota justru melampiaskan frustrasi kekanak-kanakan lewat narasi kotor, biadab, dan melecehkan seluruh aparatur serta rakyatnya sendiri secara terang-terangan.
‎Berdasarkan rekaman video yang memantik kemarahan publik, Walikota Tidore Kepulauan secara arogan dan tanpa sensor meneriakkan ancaman murahan, Berani Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan PPK paruh waktu, berani ngoni pe tangan hela saya (Walikota Tidore) kasih batobo, kepala dinas saya kasih non job. Tidak ada jabatan, semua di tempatkan di Oba Selatan.
‎Pernyataan yang secara sengaja menjadikan Kecamatan Oba Selatan sebagai objek hukuman, tempat pembuangan birokrasi, dan disamakan dengan tempat sampah pembangunan ini langsung menyulut api kemerahan di dada seluruh warga. Ikatan Pelajar Mahasiswa Maidi (IPMMA) di bawah kepemimpinan Ketua Umum M. Ghazali Faraman, bersama seluruh masyarakat, tokoh adat, pemuda, serta jajaran ASN dan PPPK wilayah Oba Selatan, secara tegas menyatakan perang terbuka terhadap pelecehan verbal yang menginjak-injak harga diri daerah mereka.
‎Ketua Umum IPMMA, M. Ghazali Faraman, mengecam keras tindakan tersebut sebagai wujud pengkhianatan telak dari seorang pemimpin bermental busuk, pengecut, dan kacang lupa kulitnya.
‎"Dulu, saat kampanye pemenangan, sosok yang sekarang bertengger di kursi kekuasaan datang dengan muka memelas, menjilat, merendahkan diri, and bersimpuh di tanah Oba Selatan demi mengemis suara kami! Waktu butuh, Oba Selatan dielukan setinggi langit sebagai lumbung suara penyelamat tahtanya. Tapi begitu berkuasa di atas keringat rakyat, dengan sangat kurang ajar ia menginjak-injak daerah kami, menjadikannya bahan lelucon kotor akibat fanatisme bola yang stres, and menyamakannya dengan tempat pembuangan sampah! Ini adalah bukti sahih bahwa ia adalah penguasa jumawa, buta sejarah, dan sama sekali tidak punya moral!” tegas M. Ghazali Faraman dengan amarah yang meluap-luap.
‎Tindakan menghina wilayah administratif rakyat sendiri hanya demi melampiaskan kekesalan kekalahan pertandingan sepak bola adalah puncak kebobrokan moral seorang pemimpin yang tidak layak dipertahankan. Demi menegakkan kehormatan tanah kelahiran yang diinjak-injak secara biadab, IPMMA bersama seluruh elemen rakyat Oba Selatan mengeluarkan ultimatum keras dan tuntutan mutlak tanpa kompromi:
Mendesak Walikota Tidore Kepulauan untuk secara jantan berdiri di hadapan publik dan menyampaikan permohonan maaf terbuka, tanpa syarat, kepada seluruh masyarakat, serta seluruh ASN dan PPPK Oba Selatan dalam waktu 1x24 jam.
Menuntut Walikota untuk segera mencabut, meralat, dan meminta maaf secara terbuka atas stigmanya yang secara keji melecehkan Oba Selatan. 
Memperingatkan siapa pun penguasa untuk tidak pernah lagi berani menjadikan Oba Selatan sebagai komoditas politik, bahan ancaman kekonyolan sepak bola, ataupun sasaran empuk arogansi jabatan.
‎Jangan pernah main-main dan menguji batas kesabaran rakyat Oba Selatan. Kami yang dengan susah payah mengangkatmu naik ke kursi kekuasaan, memiliki kekuatan mutlak dan jauh lebih besar untuk menjatuhkan, meruntuhkan, dan menendang keluar pemimpin yang sombong, busuk moral, serta berkhianat pada rakyatnya sendiri. Pungkas M. Ghazali Faraman dengan ultimatum keras tanpa tawar-menawar.

Redaksi: Sahril 

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)