
TIDORE, RedMol.id – Di tengah semakin banyaknya penggunaan barang modern, kerajinan tradisional saloi masih bertahan di tangan sejumlah perempuan di Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara.
Salah satunya adalah Rugaya Maya, 55 tahun, warga RT 07/RW 02, Lingkungan Mangga Gole, Kelurahan Mafututu, Kecamatan Tidore Timur. Puluhan tahun dirinya menekuni pembuatan saloi, keranjang tradisional yang dahulu banyak digunakan masyarakat untuk membawa hasil kebun.
Di rumah sederhananya, bilah-bilah bambu menjadi bahan utama yang dikerjakan secara manual. Bambu dibersihkan, dipotong, kemudian dianyam secara bertahap hingga membentuk sebuah saloi.
Keterampilan tersebut diperoleh Rugaya sejak masih kecil. Ia belajar bukan melalui pendidikan formal, melainkan dengan memperhatikan orang tuanya ketika membuat saloi.
“Sejak masih kecil kami sudah membuat saloi. Waktu masih SD, saya belajar dengan melihat bagaimana Mama membuatnya,” ujar Rugaya dalam bahasa Tidore, yang diterjemahkan dengan bantuan suaminya.
Bagi Rugaya, membuat saloi bukan sekadar mempertahankan keterampilan tradisional. Kerajinan tersebut telah menjadi sumber penghasilan keluarga selama puluhan tahun.
Ia mengaku rumah yang ditempatinya dibangun dari hasil penjualan saloi. Penghasilan dari kerajinan tersebut juga digunakan untuk membiayai pendidikan anak-anaknya hingga perguruan tinggi.
Bahkan, hasil usaha membuat saloi turut membantu membiayai keberangkatan suaminya menunaikan ibadah haji pada 2019.
Dari Perlengkapan Kebun Menjadi Produk Kerajinan.
Saloi sejak lama digunakan masyarakat Tidore dan sejumlah wilayah di Maluku Utara untuk membawa hasil pertanian maupun kebutuhan dari kebun.
Bentuknya memiliki ciri khas. Bagian atas cenderung melebar, sementara bagian bawah lebih kecil. Pada bagian belakang dipasang tali sehingga saloi dapat dibawa dengan cara digendong seperti ransel.
Dalam proses pembuatannya, pengrajin menggunakan berbagai bahan alami, terutama bambu. Bahan tersebut harus dibersihkan dan dihaluskan sebelum dipotong sesuai ukuran dan dianyam menjadi badan saloi.
Setelah rangka selesai, bagian bawah dan kaki saloi dikerjakan sebelum tali penggendong dipasang.
Bagi pengrajin berpengalaman, satu hingga dua saloi dapat diselesaikan dalam sehari. Namun, jumlah produksi sangat bergantung pada bahan baku serta tingkat kesulitan pengerjaan.
Rugaya mengatakan bahan baku yang dahulu relatif mudah diperoleh kini harus dibeli. Kondisi tersebut turut memengaruhi biaya produksi.
Saloi buatannya dipasarkan di sejumlah pasar di Tidore, termasuk Rum dan Soasio. Sebagian produk kemudian dibawa ke Ternate dan bahkan ada yang dipesan untuk dikirim ke Jakarta.
Harga juga mengalami perubahan. Jika dahulu saloi dapat dijual sekitar Rp75 ribu, kini harganya berada di kisaran Rp125 ribu hingga Rp175 ribu, tergantung ukuran dan jenisnya.
Masih Digunakan Petani.
Meskipun zaman berubah, saloi belum sepenuhnya kehilangan fungsi tradisionalnya.
Nurlela, salah seorang petani di Tidore, masih menggunakan saloi ketika pergi ke kebun. Menurutnya, keranjang tersebut memudahkan dirinya membawa hasil panen dalam jumlah banyak.
Bagi masyarakat yang telah lama mengenalnya, saloi bukan hanya sebuah keranjang, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Namun, fungsi saloi kini mulai berkembang. Di Ternate, Dan pesisirnya, keranjang tradisional tersebut tidak hanya digunakan untuk membawa hasil kebun, tetapi juga mulai dipandang sebagai produk seni dan cendera mata.
Safitri, pedagang kerajinan di Pasar Higienis Ternate, mengatakan wisatawan menjadi salah satu pembeli saloi.
Menurutnya, sejumlah wisatawan membeli saloi untuk dijadikan hiasan atau bagian dari koleksi kerajinan tradisional.
Harga saloi yang dijualnya berkisar Rp180 ribu hingga Rp200 ribu, bergantung pada ukuran. Sebagian barang didatangkan dari Mafututu, Tidore, serta wilayah Makeang.
Permintaan biasanya meningkat ketika berlangsung festival atau kegiatan besar. Namun, keterbatasan produksi membuat pedagang terkadang harus menunggu pengrajin menyelesaikan pesanan.
Regenerasi Menjadi Tantangan
Keberlangsungan saloi menghadapi tantangan besar, terutama dalam hal regenerasi pengrajin.
Rugaya merupakan generasi ketiga di keluarganya yang masih menguasai keterampilan membuat saloi. Saat ini, keterampilan tersebut masih diketahui oleh suami, salah seorang anak, serta menantunya.
Ia berharap keterampilan yang diwariskan keluarganya tidak berhenti pada generasi sekarang.
“Semoga kami tetap sehat dan keterampilan ini bisa diteruskan kepada anak-anak. Jangan sampai warisan ini hilang,” harapnya.
Rugaya juga berharap ada perhatian pemerintah terhadap para pengrajin. Menurutnya, proses membuat saloi membutuhkan ketekunan dan kesabaran sehingga tidak semua orang mampu bertahan mempelajarinya.
Persoalan regenerasi juga menjadi perhatian akademisi.
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun, Hudan Irsyadi, mengatakan perubahan zaman dan perkembangan teknologi turut memengaruhi keberlanjutan pengetahuan tradisional.
Menurutnya, saloi merupakan bagian dari produk budaya masyarakat Maluku Utara yang tidak hanya dikenal di Tidore dan Ternate, tetapi juga di sejumlah wilayah Halmahera.
Ia menyebut regenerasi sebagai salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian karena sebagian besar pengrajin merupakan kelompok usia lanjut, sementara generasi muda cenderung memilih sesuatu yang lebih praktis.
Peluang Ekonomi Kreatif dan Wisata Budaya.
Hudan menilai pelestarian saloi tidak cukup dilakukan hanya dengan mendorong anak muda belajar menganyam.
Menurutnya, perlu ada ekosistem ekonomi yang membuat keterampilan tersebut memiliki nilai dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memastikan ketersediaan bahan baku serta memberikan penghargaan maupun insentif kepada pengrajin yang masih bertahan.
Saloi juga dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai bagian dari ekonomi kreatif dan ekowisata.
Produk tersebut dapat diperkenalkan sebagai cendera mata, bagian dari atraksi budaya, maupun ditampilkan dalam festival yang melibatkan generasi muda.
Salah satu gagasan yang disampaikan adalah penyelenggaraan festival saloi dengan melibatkan pelajar agar mereka mengenal kembali keterampilan tradisional masyarakat setempat.
Selain itu, saloi memiliki bentuk yang berbeda di sejumlah wilayah Maluku Utara. Saloi Tidore, misalnya, cenderung berukuran lebih kecil dengan bagian atas yang bulat dan melebar.
Sementara di sejumlah wilayah Halmahera, seperti Sahu, Tobelo, dan Tabaru, bentuk saloi dapat berukuran lebih besar dengan bagian bawah yang semakin mengecil.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa saloi bukan sekadar benda untuk membawa hasil kebun. Kerajinan tersebut juga merepresentasikan pengetahuan, kebiasaan, serta kehidupan sosial masyarakat setempat.
Menjaga Warisan dari Generasi ke Generasi.
Bagi Rugaya, menjaga saloi berarti mempertahankan bagian dari perjalanan hidup masyarakat Tidore, dan sekitarnya.
Setiap bilah bambu yang dianyam menyimpan keterampilan yang diperoleh dari generasi sebelumnya. Jika tidak ada penerus, bukan hanya sebuah keranjang yang akan hilang.
Pengetahuan tentang memilih bahan, mengolah bambu, menganyam hingga membentuk saloi juga berpotensi ikut terputus.
Karena itu, keberadaan pengrajin seperti Rugaya menjadi penting. Di tangan mereka, tradisi lama masih terus dikerjakan sekaligus memiliki peluang untuk dikembangkan mengikuti kebutuhan zaman.
Tantangannya kini adalah bagaimana membuat generasi muda melihat saloi bukan sebagai kerajinan masa lalu semata, tetapi sebagai warisan budaya yang juga memiliki nilai ekonomi dan peluang untuk dikembangkan.
Dengan regenerasi, dukungan bahan baku, pemasaran, serta perhatian terhadap pengrajin, saloi diharapkan tetap menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Tidore dan Maluku Utara.
Redaksi: Sahril
