Keraton Kesultanan Ternate Anugerahkan Gelar Adat "Kimalaha" kepada Kepala BKN dan Kepala LAN RI

Admin RedMOL
0

TERNATE, RedMol.id – Keraton Kesultanan Ternate secara resmi menganugerahkan gelar kehormatan adat kepada Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) RI, Zudan Arif Fakrulloh, dan Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI, Muhammad Taufiq. Prosesi adat dipimpin langsung oleh Sultan Ternate, Jou Kolano Moloku Kie Raha Hidayatullah Sjah, di Foris Lamo, Keraton Kesultanan Ternate, Rabu (29/7/2026).

Penganugerahan tersebut didasarkan pada Surat Keputusan Sultan Ternate Nomor 06.002.A/KT/VII/2026 yang menetapkan Zudan Arif Fakrulloh sebagai Kimalaha Dodego Malamo, serta Surat Keputusan Nomor 07.002.A/KT/VII/2026 yang menetapkan Muhammad Taufiq sebagai Kimalaha Sabua Malamo.

Prosesi berlangsung dengan penuh khidmat di bawah Lampu Caga, salah satu lokasi yang disakralkan dalam tradisi Kesultanan Ternate. Di tempat tersebut, kedua penerima gelar mengucapkan sumpah adat sebagai simbol komitmen untuk mengemban amanah secara jujur, adil, dan bertanggung jawab sesuai nilai-nilai luhur warisan leluhur.

Setelah prosesi pengukuhan selesai, rangkaian acara dilanjutkan di Pendopo Bala dengan penyerahan piagam penghargaan adat, penyampaian sambutan, serta pemaparan mengenai filosofi gelar yang diberikan.

Jo Hukum Soasio Kesultanan Ternate, Gunawan Radjim, menjelaskan bahwa istilah Kimalaha berasal dari kata Kie yang berarti wilayah atau gunung dan Malaha yang bermakna terbaik. Secara keseluruhan, gelar tersebut dimaknai sebagai "putra terbaik" yang dipercaya memimpin.

Menurutnya, gelar Kimalaha Dodego Malamo yang disematkan kepada Zudan Arif Fakrulloh memiliki makna sebagai pemimpin besar yang bertanggung jawab dalam bidang jabatan, kedudukan, dan kepegawaian. Sementara Kimalaha Sabua Malamo yang diterima Muhammad Taufiq dimaknai sebagai pemimpin besar yang mengayomi sebuah "rumah besar" atau lembaga yang menaungi banyak orang.

Gunawan juga mengungkapkan bahwa pemberian gelar ini merupakan bagian dari pelestarian sejarah panjang hubungan Kesultanan Ternate dengan keturunan Jawa yang telah menjadi bagian dari struktur pemerintahan adat sejak masa Sultan Zainal Abidin. Tradisi tersebut tercermin dalam keberadaan Bobato 18, termasuk Fanyira Jawa, Sangaji Jawa, dan Imam Jawa. Gelar adat yang diberikan bersifat seumur hidup dan menjadi identitas resmi penerimanya dalam berbagai kegiatan adat maupun kenegaraan.

Dalam sambutannya, Sultan Hidayatullah Sjah menyampaikan apresiasi kepada kedua pimpinan lembaga negara yang bersedia menerima penghargaan adat tersebut. Menurutnya, langkah itu menjadi bentuk penghormatan terhadap budaya Moloku Kie Raha sekaligus upaya menjaga kelestarian warisan budaya di Indonesia. Sultan juga berharap gelar yang dianugerahkan membawa keberkahan serta kemuliaan bagi para penerimanya.

Mewakili para penerima gelar, Zudan Arif Fakrulloh menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kehormatan yang diberikan. Ia mengaku bangga dapat diterima sebagai bagian dari keluarga besar Kesultanan Ternate.

Senada dengan itu, Muhammad Taufiq menilai pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga dan merawat nilai-nilai budaya serta menghormati sejarah Kesultanan Ternate yang memiliki kontribusi penting dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Acara tersebut turut dihadiri Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Utara Samsuddin A. Kadir, Kepala Kantor Regional BKN, Kepala Biro Administrasi Pimpinan Ali Fataruba, Plt. Kepala BPSDM Syam Sofyan, jajaran Bobato dan perangkat adat Kesultanan Ternate, serta rombongan pejabat dari BKN dan LAN RI.

Redaksi: IL

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)